Jaman Kerajaan

Jaman Pemerintahan Airlangga sampai Kediri

Pada tahun 1042 Raja Airlangga membagi kerajaan Kediri menjadi dua bagian yaitu Pangjalu dan Jenggala. Kerajaan Pangjalu diserahkan kepada Sri Samarajaya dan Jenggala kepada Mapanji Garasakan.

Pemberian kerajaan Pangjalu bukan pada Sri Sanggramawijaya sebagai putra pertama oleh karena putra pertama tersebut menjadi seorang pertapa dan dikenal dengan nama Diyah Kilisuci.

Pebagian kerajaan menjadi dua menurut Kitab Negarakretagama dilaksanakan oleh seorang pendea Budha Mahayana aliran Tantra yang bernama Empu Bharadha dengan menggunakan air suci yang dituangkan dari langit (toyeng kendi sangking langit). Batas kedua belah kerajaan itu ditarik dari Barat ke Timur sampai laut, dan terbagilah negara menjadi magian Utara dan Selatan, bagaikan perbatasan lautan pada tanah Jawa mempunyai dua orang raja. Dalam membagi kerajaan tersebut di Desa Palungan jubah sang pendeta tersangkut pada pohon asam sehingga terpaksa sang pendeta berhenti dan turun dari langit dan mengutuk pohon asam tersebut tetap kerdil.

Dari peristiwa pembagian negara Kediri yang perlu diamati adalah batas-batas pembagian kerjaan, letaknya serta hubungannya dengan Tuban. Menurut pendapat Drs. Buchori dikatakan bahwa batas antara kerajaan Pangjalu dan Jenggala merupakan sungai yang mengalir dari arah barat ke timur sampai ke laut, sungai tersebut dinamakan Kali Lamong.

Ibu Kota Kerajaan Pangjalu bernama Dahana pura yang terletak di dekat Desa Pamotan sebelah Selatan kali Lamong. Hal ini sesuai dengan Prasasti Pamwatan bertahun 1042 Masehi yang mencantumkan kata Daha dengan kwadrat dua dan terletak di Desa Pamotan.

Sedangkan Kerajaan Jenggala yang dikuasai oleh Mapanji Garasakan terletak di sebelah Utara Kali Lamong, hal ini disebabkan Prasasti Kambang Putih, Malengga ditemukan di Daerah Tuban.

Di daerah Ngimbang (Kab. Lamongan) terdapat sebuah sungai yang bernama Kali Lanang. kali Lanang merupakan anak sungai dari Kali Lamong yang mempunyai kekuatan ghaib.

Dengan Demikian, maka Tuban sekitar tahun 1044 sampai tahun 1059 Masehi dibawah Kerajaan Jenggala denagn raja-rajanya:

  • Sri Maharaja Mapanji Garasakan (1044 – 1052)
  • Mapanji Alanjung Ahyes (1052 – 1059)
  • Sri Samarotsaha (1059 -…..)

Jaman Singosari sampai berdirinya Majapahit

Pada masa surutnya Jenggala tahun 1059, nama Tuban tidak muncul dalam arena sejarah dan baru pad tahun 1275 dalam Serat Pararaton disebutkan :

“Sri Panji Aragini angeteraken wangsul ing Tuban teka ring Tumapel Sang Panji Aragini angateraken Sadohapati dina akhasukan sira ji kertanegara”

Dengan demikian Tuban sewaktu jaman raja Kertanegara sudah menjadi Kota yang besar dan juga sebuah bandar pelabuhan. Hal ini terbukti bahwa tentara Tar-Tar dari Tiongkok dalam menuju Singosari berlabuh di pelabuhan Tuban. Dan pada awal 1293 Tuban kembali menjadi percaturan sejarah karena peranannya pada masa Raden Wijaya membuka tanah di Hutan Tarik yang pada akhirnya menjadi sebuah kerajaan besar yang bernama Majapahit.

Pendirian Kerajaan majapahit tersebut tidak lepas dari jasa Aryo Wiraraja dari Sumenep yang dengan sekuat tenaga membantu Raden Wijaya yang telah dijanjikan kerajaannya akan dibagi dua antara Raden Wijaya dan Aryo Wiraraja, sedangkan putra Aryo Wiraraja bernama Ronggolawe.

Mengenai tokoh Ronggolawe itu sendiri banyak diceritakan dalam Kidung Ronggolawe, Panji Wijayakrama, Sorandaka maupun Kidung Harsawijaya dan Serat Pararaton. Sebenarnya nama Ronggolawe dalah pemberian dari Raden Wijaya sebagaimana tercantum dalam Kidung Ronggolawe pupuh XX/23 sebagai berikut:

“sira rayi mengko sun arani, pantes ajenenga Ranggawenang, uga karan Ranggalawe, marmane sira iku, sun parabi mangkono yayi, sun wenang ken wisesa, sarehira manut” sigeg kang wawan sabda, nulya miyos rahaduan mring jawi kori, anginun suka suka.

Ternyata Ranggolawe adalah ahli siasat perang dan dalam pertempuran-pertempuran dia seorang pemberani yang lincah dalam menggunakan senjata dan trampil langkahnya. Ucapannya lantang dan didalam perundingan tidak segan-segan melontarkan suara keras pada Raden Wijaya. namun disamping kekerasan itu kita kenal juga watak Ronggolawe yang mempunyai tekat besar, berani mempertaruhkan jiwanya untuk membela Raden Wijaya.

Dalam kitab Nagarakretagana tidak disebut-sebut pemberontakan Ronggolawe yang menurut Pararaton terjadi tahun 1295. Menurut Kidung Ronggolawe pemberontakan itu timbul akibat pengangkatan Nambi sebagai Patih Amangkubumi Majapahit. Pengangkatan nambi tersebut tidak sependapat dengan Ronggolawe, karena nambi dianggab kurang berjasa pada Majapahit.

Sedangkan Ronggolawe sangat berjasa pada dalam pembukaan hutan Tarik, pengusiran tentara Tar-Tar apalagi Ronggolawe adalah putra dari Arya Wiraraja yang telah banyak berjasa dalam membantu berdirinya Majapahit. Ronggolawe pada akhirnya gugur di Sungai Tambakberas sebagai pahlawan pada tahun 1295 dengan sangkala “Kuda Bhumi Paksaning Wong”.

Lima tahun setelah gugurnya Ronggolawe, Majapahit dilanda perang kembali. Menurut Pararaton ada seorang Dharmadyaksa yang bernama Mahapati yang berambisi besar ingin menduduki jabatan penting dengan menyebar fitnah. Semua pengikut setia Raden Wijaya gugur, Sora, Mahesa Anabrang, Juru Demung dan Gadjah Biru.

Akhirnya Majapahit selalu dilanda oleh peperangan dan baru pada masa Gadjah Mada menjadi Patih Amangkubumi, Majapahit menjadi Jaya. 

One Comment on “Jaman Kerajaan”

Trackbacks

  1. Alumni SMAN 1 Tuban » Blog Archive » Jaman Kerajaan

Write a Comment

Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!

Copyright © 2014 Ronggolawe.Com All rights reserved. Powered by Wordpress