Dari Ikan Teri sampai Minyak Bumi

DILIHAT dari karakteristik geografis dan potensi alamnya, Kabupaten Tuban tidaklah jauh berbeda dengan daerah lainnya yang berada di pesisir pantai utara Jawa Timur, seperti Kabupaten Gresik dan Lamongan. Selain memiliki daerah pantai yang cukup panjang, yakni sekitar 65 kilometer, wilayah Tuban juga terdiri dari gunung-gunung kapur dan hutan jati yang saat ini sudah mulai habis.

Dengan kondisi alam yang demikian, maka tak heran potensi daerah Tuban menjadi cukup luas, mulai dari laut sampai daratan. Salah satu hasil kekayaan laut Kabupaten Tuban yang sudah dimanfaatkan sebagai komoditas ekspor adalah potensi ikan teri nasi.

Pengolahan ikan teri yang terdapat di daerah pantai, seperti di Kecamatan Palang, Jenu, Tambakboyo, dan Bancar, hasilnya sudah diekspor ke Jepang. Tidak main-main, kapasitas produksinya mencapai 130 ton dengan nilai produksi mencapai Rp 3,4 miliar per tahun.

Tak berbeda dengan kekayaan alam lautnya, potensi perut bumi Tuban juga cukup besar. Salah satu di antaranya adalah minyak bumi. Di wilayah Tuban saat ini sedikitnya terdapat sekitar enam daerah yang memiliki cadangan minyak dan gas (migas) yang akan dan sedang dieksploitasi. Beberapa daerah itu di antaranya di Kecamatan Singgahan dengan 20 sumur yang sebagian sumurnya telah dieksploitasi, yaitu Bangilan, Bukar, arengan, Jenur, Mudi, dan Rengel.

Selain Mobil Oil, perusahaan eksplorasi dan eksploitasi migas yang sudah cukup lama beroperasi di Tuban, yaitu Devon Oil dan JOB Pertamina, serta perusahaan migas dari Cina, Petrochina.

Eksplorasi dan eksploitasi migas di Tuban tidak hanya dilakukan di darat, tetapi juga di lepas pantainya. Pada tahun 2006 nanti, Pertamina merencanakan akan membangun terminal transit bahan bakar minyak. Pembangunan terminal transit ini nantinya dimaksudkan untuk menjamin pasokan bahan bakar minyak ke wilayah Jawa Timur dengan pemasangan pipa aliran bahan bakar minyak dari Tuban ke Surabaya yang panjangnya mencapai 140 kilometer.

Kepala Humas Pertamina Unit Pemasaran (UPMS) V Asep Aonuddin, dalam acara sosialisasi rencana pembangunan proyek Pertamina beberapa waktu lalu, mengatakan, pilihan lokasi terminal transit di Tuban seluas 40 hektar adalah dengan tangki timbun berkapasitas 450.000 kiloliter karena kondisi daerah Tuban dinilai lebih sesuai dan tidak terlalu jauh dari Surabaya.

Besarnya potensi alam yang dimiliki Kabupaten Tuban memang telah mengundang sejumlah industri untuk berinvestasi di Tuban. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban tampaknya sadar benar akan potensi daerahnya. Hal ini dapat dilihat dari Rencana Tata Ruang Kawasan Industri (RTRKI) yang disusun. Pemkab Tuban akan menyediakan zona industri seluas 49.210 hektar atau 26,74 persen dari luas seluruh wilayah Kabupaten Tuban.

Menurut informasi yang diperoleh dari Pemkab Tuban, luas areal yang sudah termanfaatkan untuk industri sekitar 29.223 hektar sehingga masih ada sekitar 20.097 hektar lahan yang belum digunakan.

MESKI potensi daerah Tuban memang menjanjikan, kenyataannya hal itu belum mampu memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Tuban sendiri. Seperti yang terjadi pada saat ini, sejumlah industri pengolahan ikan di Tuban mulai banyak yang gulung tikar. Hal ini disebabkan selain karena terus berkurangnya pasokan ikan dari nelayan, harga jual ikan yang rendah semakin memberatkan mereka dalam menjalankan usahanya.

Beberapa nelayan di Desa Kenanti, Kecamatan Tambakboyo, misalnya, menyatakan, sebagian besar nelayan di desa tersebut sudah tidak melaut lagi. Selain karena minimnya hasil tangkapan, mereka tak melaut juga karena tidak mampu membeli solar untuk mesin kapalnya. Persoalan klasik yang juga dihadapi para nelayan di pantai utara Jawa Timur.

Sejumlah nelayan bahkan terpaksa menjual kapalnya untuk membuka usaha lainnya di darat. Hal ini terjadi karena hasil tangkapan ikan yang tidak bisa diharapkan lagi. “Percuma melaut kalau hasil tangkapannya tidak seberapa. Sampai sekarang, sulit sekali untuk memperoleh hasil tangkapan yang memadai di perairan Tuban. Daripada uang dibelikan solar, lebih baik untuk makan,” ujar Edi, nelayan di Desa Kenanti.

Jika sebelumnya para nelayan bisa membawa pulang 30 sampai 40 kilogram ikan, sekarang untuk mendapatkan 10 kilogram ikan saja sangat sulit.

Tidak hanya dari sektor perikanan, hasil pengeboran migas yang dieksplorasi dan dieksploitasi sejumlah perusahaan kontraktor bagi hasil (KPS) juga belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Tuban. Dalam suatu kesempatan, Bupati Tuban Haeny Relawati Rini Widyastuti pun mengakui, penerimaan dari pembagian hasil eksplorasi migas yang diperoleh Pemkab Tuban masih rendah.

Dikatakan, dari total pendapatan migas, Pemkab Tuban hanya mendapatkan bagian kurang dari satu persen. Penerimaan tersebut tentunya sangat jauh dari yang diharapkan.

Misalnya, pendapatan Pemkab Tuban pada tahun 2002 yang berasal dari sektor migas. Dari estimasi yang semula diinginkan Pemkab Tuban sebesar Rp 9 miliar-angka itu dihitung berdasarkan ketentuan Undang-Undang Migas tentang bagi hasil migas-namun, setelah ada pembicaraan dengan pemerintah pusat dan KPS hanya disepakati sekitar Rp 5,2 miliar. Malah kenyataannya, nilai bagi hasil yang diperoleh Pemkab Tuban cuma Rp 1,3 miliar.

Menurut Haeny, pihaknya sudah beberapa kali berusaha meminta penjelasan dari pemerintah pusat soal pembagian hasil ini. Sementara, menurut penjelasan pemerintah pusat waktu itu, beberapa KPS memang belum boleh dikenai kewajiban PPN karena mereka masih menanggung biaya operasional Pertamina.

Sumber: Gatot Widakdo 

Write a Comment

Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!

Copyright © 2014 Ronggolawe.Com All rights reserved. Powered by Wordpress